Selasa, 03 Juli 2018

Tawa dari Arya

Hari ini Bagas dan Arya berencana pergi ke Taman Musik. Adik kakak itu ingin menghadiri festival musik yang diadakan sekolahnya.

“Bang Arya, tiketnya di abang ‘kan?”
“Ngga butuh tiket. Langsung kartu pelajar aja”.
“Oke”.

Sampailah mereka ke festival itu. Bagas dan Arya langsung mencari tempat duduk dan menyaksikan Band yang sedang membawakan lagu “Fly Me to The Moon”.

Bagas sangat menikmati semua lagu yang ada di festival itu. Berbeda dengan Arya, sepertinya Arya sedang kepikiran sesuatu.

“Bang? Lagi kepikiran ya?”
“Kepikiran apa?”
“Ngga tau. Dari tadi diem terus. Laper ya?”

Arya tertawa mendengar ucapan Bagas. Tapi akhirnya, Arya hanya mengangguk.

Jumat, 29 Juni 2018

Daun yang Tak pernah Membenci Angin meski harus Terenggutkan dari Tangkai Pohonnya




Judul Buku    : Daun yang Jatuh tak pernah Membenci Angin
Penulis           : Tere Liye
Tebal Buku    : 256 halaman
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2010

Tere Liye adalah seorang pengarang terkenal yang sudah menulis banyak buku populer, antara lain Hujan, Pulang, Moga Bunda Disayang Allah, dan Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin. Tere Liya juga membuat sekuel novel, yaitu Serial Anak Mamak dan Sekuel Novel Bulan.
Novel-novel yang ditulis oleh Tere Liye memiliki keunikan sendiri yaitu sudut pandang yang disertai perasaan, termasuk novel Daun yang Jatuh tak pernah Membenci Angin ini. Hal itu juga yang mendasari saya untuk meresensi novel tersebut.
Novel bernuansa romantis ini menceritakan tentang Tania, gadis dari keluarga yang menjadi miskin sepeninggal ayahnya. Kisah Tania yang mengenal ‘seseorang’ yang sangat berarti bagi hidupnya yang diceritakan sebagai ‘Malaikat penolong keluarganya’.
Tania bertemu dengan seseorang yang bernama Danar, orang yang terlihat berumur 25 tahun. Saat itu Tania dan Adiknya sedang dalam perjalanan pulang menggunakan metromini sehabis mengamen (padahal usia Tania baru sebelas tahun dan Adiknya enam tahun). Kaki Tania yang tidak beralaskan apapun menginjak paku payung didalam metromini. Seketika Tania mengaduh dan Danar datang mengobati kakinya.
Keesokannya mereka bertemu lagi dengan Danar di bus yang sama. Ternyata Danar membelikan mereka sepatu baru dan mengunjungi rumah kardusnya. Semenjak saat itu, kehidupan keluarga mereka berubah. Tania kembali lagi bersekolah. Adiknya yang biasa dipanggil Dede senang dengan baju barunya. Ibunya memiliki usaha kue kecil-kecilan. Tania, Dede, dan Danar pun sering mengunjungi toko buku untuk membeli buku.
Ternyata Om Danar (Danar) memiliki sebuah kelas dongeng di hari Minggu dan mempersilakan Tania dan Dede untuk mengikuti kelas itu. Di kelas itu pula, Tania mengenal seorang kakak perempuan yang membuatnya mengetahui arti dari cemburu, orang itu Kak Ratna.
Kehidupan yang mulai membaik itu sebenarnya mulai memburuk juga. Ibunya, ternyata mengidap penyakit kanker paru-paru stadium empat. Ibu sering tiba-tiba pingsan. Hingga suatu ketika Ibu pingsan dan dirawat di rumah sakit. Ibu memberi pesan terakhir sebelum kepergiannya kepada Tania. Tania harus berjanji tidak akan menangis untuk siapapun kecuali untuk Om Danar.
Tania melanjutkan sekolah menengah sampai universitas di Singapur dengan Beasiswa. Bahkan, Tania meraih nilai rata-rata terbesar. Dengan semua pencapaian Tania, Om Danar sangat sering memberi Tania hadiah. Dan setiap diberi hadiah, Tania menangis.
Sebelum ulang tahun Tania, Om Danar mengajak Dede dan Kak Ratna ke Singapur. Lalu, mereka berempat makan di pecinan dan memberi tahu tentang rencana pernikahan Om Danar dan Kak Ratna. Tania sangat kaget dengan hal tersebut.
Ternyata rencana pernikahan tersebut terlaksana. Tania tidak datang. Sampai berbulan-bulan setelah pernikahan tersebut, Kak Ratna curhat pada Tania bahwa Om Danar berubah drastis.
Tania pulang untuk mencari tahu semuanya, semua teka-teki, semua perasaan. Akhirnya Tania mengetahui kebenarannya. Tania dan Om Danar ternyata saling mencintai. Sayang, batasan antara mereka sekarang adalah takdir.
Novel Daun yang Jatuh tak pernah Membenci Angin ini memiliki banyak keunggulan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari sehingga cerita terasa dekat. Alur cerita yang maju mundur dan gaya bahasa yang sangat khas ditulis oleh Tere Liye. Ceritanya tidak mudah ditebak, membuat kejutan-kejutan tersendiri ketika membacanya. Ceritanya juga mengalir dengan halus, sehingga pembaca dapat mengikutinya dengan mudah. Penyampaian pesan moral lewat cerita ini berhasil sampai ke hati.
Tiada gading yang tak retak, begitu juga novel ini. Bagi pembaca yang baru membaca buku dengan bahasa seperti ini, akhir cerita akan terasa menggantung, karena tidak disampaikan secara tersurat. Sehingga, pembaca mungkin dibuat bingung.
Novel ini sangat cocok untuk orang yang menyukai cerita dengan alur yang mengalir, apalagi dengan gaya bahasa yang cukup tinggi. Novel ini juga sangat menonjolkan diksi dan pola kata khas Tere Liye. Untuk itu, saya sangat merekomendasikan novel ini.
(606 kata)
Hari Keenam

Maria dan Desi

“Jadi gini, Mar. Aku tuh kesel kalau kamu susaaaaaaah banget dihubungin”

“Iya, Desi. Aku tauuuuuu banget. Udah dulu ya, cape. Mau tidur. Dadaaah”

Helo. Aku Maria. Aku males banget mainan gawai (sebenernya males juga sih ngapa-ngapain, hihihi). Aku cuma buka gawai kalau mau aja. Sehari-hari, aku senengnya nonton televisi atau baca buku. Aku suka aktivitas yang hubungannya banyak sama barang, bukan orang.

Oke skip. Tadi aku baru ditelepon sama sahabat sekaligus teman sebangku aku, Desi. Dia sukanya ngomel gara-gara aku susah dihubungin. Desi sering banget nelpon aku untuk ngingetin kalau besok ada tugas sekolah atau sekedar janjian ngajak ke kantin kalau lagi di sekolah.

Sebetulnya, tadi Desi nelpon bukan untuk ngomel aja, tapi juga ngebujuk aku untuk dateng ke pesta dansa sekolah.

Pesta dansa? Ya. Pesta dansa alias Prom. Acara ini diselenggarakan atas dasar kemauan sebagian besar siswa. Yang lain, mungkin sangat menunggu-nunggu acara seperti ini. Beda dengan diriku.

Bukannya ngga mau, tapi ya pesta dansanya itu bayar tiga ratus ribu rupiah. Jadi aku keberatan. Bukan karena ngga ada uangnya, tapi aku ngga mau aja memakai uang aku untuk pesta dansa (bahkan secara teknis itu uang orangtuaku).

Aku berdoa semoga Desi ngga jadi deh ke pesta dansanya. Sebetulnya, aku ngga mau ngecewain sahabat aku itu. Aku jadi bingung ngomongnya gemana.

Kring-kring. Kring-kring.

“Halo, Desi. Aku masih pik…”

“Mar! Aku ngga jadi datang ke pesta dansa! Aku lupa! Tanggal segitu orang tuaku pergi ke Sumatera Selatan! Jadi ya mending aku ikut orangtua aku lah! Kamu ngga ikut, kan?”

“Boleh diulang, Des? Kurang jelas!”

“Ya ampun! Mar? Kamu denger, kan? Aku ngga jadi ke pesta dansa! Aku mau ke Sumatera Selatan!”

Tut. Aku matiin sambungannya. Aku sujud syukur. Aku ngga tau apalagi yang harus aku lakuin selain itu. Lalu, aku ambil lagi gawainya, aku kirim pesan untuk Desi.

Makasih banyak ya, Des!”

(300 kata)
30 Hari Menulis, Hari Kelima

Selasa, 26 Juni 2018

Hal Bodoh

Dia Pak Fauzi. Dia guru mata pelajaran IPS yang lagi magang di SMA-ku. Orangnya tinggi, berkulit putih, dan senang berpakaian rapih. Dia juga orang yang sangat senang dengan debat. Bahkan debat kusir sekalipun.

Sedangkan aku, seseorang yang cuek, individualis, dan menyukai ketenangan. Tentu saja gaya mengajarnya Pak Fauzi sangat tidak cocok dengan kepribadianku. Kadang aku ingin protes. Namun, aku terlalu malas untuk melakukan hal itu.

Teman-temanku pernah bilang "Dia itu ganteng loh, tapi sayang cuma ngajar bentar. Mubazir deh mukanya!" Aku cuma bisa tertawa mendengar hal itu.

Suatu hari, dia mengajar di kelas dengan gaya mengajar yang baru. Saat itu dia tidak basa basi dan memberikan kita teka teki untuk pemanasan otak.

"Dengar ya, bapak akan memberi kalian teka teki. Kalian hanya punya satu kesempatan untuk menjawabnya" kata Pak Fauzi.

"Hari Rabu berjenis kelamin apa?"

Kami satu kelas bingung mau menjawab perempuan atau laki-laki. Lagipula, apakah alasan penamaan hari berdasarkan jenis kelamin? Sulit sekali memahaminya.

"Laki-laki, Pak!" temanku nekad menjawab.

"Salah! Yang bener itu perempuan"

"Kenapa pak?" temanku bertanya.

"Karena namanya Hari Rabu. Kalau laki-laki, namanya Hari Rapak! Hahaha!"

Pak guru dan teman sekelasku tertawa cekikikan. Benar-benar selera humor yang aneh.

"Karena teka tekinya sudah selesai, kita langsung masuk materi, ya. Bapak ga akan cerita-cerita dulu"

Kelas mengeluh. Mengeluarkan suaranya yang terdengar kecewa. Tapi ada saja yang berusaha memancing bapak untuk bercerita. Dia tidak meminta izin terlebih dahulu untuk bertanya. Dia langsung menuduhkan pertanyaannya.

"Pak, bapak udah punya pacar, ya?"

Kelas hening.

"Tadi saya cari Instagram bapak. Ada foto bapak berduaan sama perempuan. Bergandengan"

Kelas heboh.

"Sudah. Bapak tidak akan bercerita hari ini. Tak perlu susah payah memancing topik. Bapak tidak akan menjawabnya"

Dari situ, kelas berjalan padat dan tanpa jeda untuk bercanda. Sampai akhirnya jam pelajarannya habis. Bapakpun keluar kelas.

Entah kenapa aku jadi kepikiran apa kata temanku tadi. Apa benar dia sudah memiliki pacar? Daripada pusing-pusing, aku akan cek instagramnya.

Ternyata benar. Ada fotonya, ada juga akun yang ia tandai. Langsung aku cek dan caritahu tentang akun itu. Sampai tahu apa hubungan mereka.

Akhirnya aku dapat link facebook perempuan itu. Benar saja. Status facebooknya bertunangan dengan Fauzi Maheru. Saat itu juga, aku baru menyadari teman laki-lakiku melihat semua yang aku lakukan dalam gawaiku. Dia menatap lama, penuh makna.

"Kamu tak perlu berpura-pura cuek kepada Pak Fauzi. Lihatlah betapa kamu ingin mencari tahu tentangnya"

"Ng..ngga kok! Apaan sih!"

"Gapapa kalau kamu gak mau ngaku"

Dia langsung pergi. Dia pergi dengan sedikit kalimat yang mulai menyadarkanku.


Aku sedang melakukan hal bodoh.

(433 kata)
30 Hari Menulis, Hari kedua.

Senin, 25 Juni 2018

GANTUNGAN KUNCI KAPAL

Banyak cara untuk mengungkapkan rasa. Salah satunya dengan hadiah. Ya, hadiah, seperti yang adik kelasku berikan kepadaku.

"Gantungan kunci kapal
Tanpa sadar benda ini terdiri dari tiga kata dasar: Gantung, Kunci, & Kapal
Tiga kata dasar yg bahkan dapat menggambarkan bagaimana hidup kita berlalu
Kamu bisa memilih satu, atau ketiganya
Tak perlu repot memaknai, karena makna akan hadir ketika kita mau membuka hati untuk memilikinya
Tak perlu repot mencari filosofi, karena filosofi kadang melalaikan kita untuk menikmati apa itu hidup

Seperti halnya kapal, hidup kita pasti memiliki tempat berlabuh
Bukan hanya tentang kemudi, tapi juga tentang mengemudi
Jangan sampai tujuan kita salah, apalagi tdk memiliki tujuan
Karena sebetulnya tujuan penciptaan kapal sudah jelas adanya, begitu juga hidup

Maafkan karena dua hal lagi belum sanggup ku deskripsikan
Ntah karena gudang kata ini kosong, atau karena kosongnya gudang waktu yg kumiliki

Insyaallah, kan kujelaskan 2 hal lagi di lain waktu, ketika Allah masih mengizinkan
Jangan bersedih, innallaha ma'ana

Anggota Sri Mayang Sunda"

Surat itu datang bersama sebuah gantungan kunci yang berbentuk botol, didalam botol tersebut ada kapal coklat berlayar hijau. Aku lebih setuju itu disebut gantungan kunci botol daripada gantungan kunci kapal. Benar-benar sudut pandang yang berbeda. Sudahlah aku tak mau bahas itu.

Yang tak aku sadari adalah, ini akhir waktuku duduk dibangku sekolah berseragam putih abu. Dan disaat akhir sekolah seperti ini, baru kuketahui ternyata selama ini dia juga yang berusaha memberi kenangan berharga selama aku SMA. Diakhir sekolah ini juga, aku baru menyadari dia menyimpan perasaan itu.

Dia, perempuan yang berani. Orangnya tdk cantik, namun bersahaja. Dia tergabung dalam satu ekskul yang sama denganku. Dia tidak takut meluapkan emosi yang ada dalam hatinya. Dan sayangnya, aku tidak pernah menaruh hati padanya.

Aku bukan orang yang cukup pemberani untuk mengungkapkan perasaanku dengan cara apapun. Bagiku, merasakan anugrah tentang perasaan itu saja sudah cukup. Tak perlu berbagi kepada orangnya. Tidak seperti adik kelasku itu.

Huh... Adik kelas, atau aku yang salah. Sepertinya aku dihantui rasa bersalah yang menyelimuti diriku terus menerus. Tiap kali surat yang baru datang, kupikir aku harus membalas suratnya. Tapi, aku tidak pernah berhenti berpikir. Sampai-sampai aku tidak pernah bertindak.

Oh adik kelas, aku suka mengingatmu. Bunga persahabatan di hari bunga, surat kecil, email tiap bulan, dan makanan di hari pramuka, semuanya tak pernah kulupakan. Yang aku tak sengaja lupakan adalah, aku sudah menyukai orang lain di hari kau beri gantungan kunci kapal ini. Sungguh, aku tak mau kamu kecewa tentang hal ini. Makanya, aku tak pernah mau berbagi cerita denganmu tentang orang yang sudah aku sukai.

Maafkan aku, harus mengatakannya disini. Aku tetap kakak kelasmu.

(429 kata)
30 Hari Menulis: Hari pertama

Sabtu, 06 Mei 2017

Cross Word Puzzle-with Tsabita Pharama






Group Members : Rafa Kholida
                                Tsabita Pharama H.


Horizontal
1. The numerical value of 3.14
2. A day for the exchange of gifts or presents to the loved ones
4. Synonym of under
6. A tool which is used by woodcutter
8. For Your Information
10. A glass material in frame
12. Having or showing zeal
15. Remains of burning
16. Down reaching
14. Judge advocate

Vertical
1. Shorter version of the longest word in English
3. 
5. Relating to a cultivated land
7. Chattering
9. Cars, bicycles, train
11. Fog (Plural)
13. Self-indulgent with fondness
15. Skateboard, iceskate
16. Synonym of action

Thank You So Much, Friends!

Hi, World!  I wanna tell you about my "coin session" with my friends. But first, I will tell you about my problems.

Last week, My KPA friends and I was doing Angklung Orchestra Resital. I happy to do it. But, all of my homework was postponed by me until 3 days later. And now I feel so stressed with that. So, I tell my friends, Caca,  Fathiyya,  AulK, Cia, and Fakhry.

"Hey, I don't know how to start it"
"Well,  so do I" Aul said.
"Hey, just stop getting stress. Let's open 'receh session'!" Fakhry said.

Yes. Receh Session. That's a little activity to make ourself happier. Of course with a little jokes.

"Let's open Sakayuv's instagram!" Cia said.
"Who is Sakayuv? How about open music video? Let's watch Pentatonix!" Caca said.
"Look at this! Luqmanabubakar have posted video! It is Sundalela part 2!" Fakhry said.

So, we was watching that video. We was laughing out loud by the end that video! To be honest, I am the happiest people there. Thank you so much for Fakhry, Cia,  Caca, Fathiyya, and AulK. So Lucky to have you all. Falling in love with you...  I am very greatful...

So How about you? Do you have some 'lucky' experience? You have to thankful about it! You can say thank you, I'm so grateful for..., and many others. See You!  Oh ya, I give you the link of Luqmanabubakar post-Sundalela.

https://www.instagram.com/p/BS6Ca44gd1g/

"Best friend are the people you can do anything and nothing with and still have the best time. Love what you have, so you have anything you need."


Cia and I




Caca,  Fathiyya,  Me,  Fakhry,  AulK